Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/h21444/public_html/modules/mod_banners/tmpl/default.php on line 9
Kurs Jual Beli
 
Home Berita & Artikel Article Menyoal peran Bank Indonesia
Menyoal peran Bank Indonesia PDF Print E-mail
Written by Sofjan Wanandi   
Tuesday, 03 August 2010 15:47

[Bisnis Indonesia] Apa yang patut segera dilakukan Bank Indonesia dalam dunia yang makin kompetitif seperti sekarang ini? Tidak ada satu pun negara ingin tertinggal, tergilas roda globalisasi yang kejam. Semua ingin bergerak maju, menjadi bangsa terdepan dalam teknologi dan perekonomian.

Sekitar 25 tahun silam, siapa yang menghiraukan India? Berita dari India selalu ihwal nestapa yang tidak berkesudahan. Kalau muncul wabah penyakit di India, ada ribuan warga yang meninggal. Kalau terjadi kecelakaan kereta api, banjir, kebakaran, atau musibah lainnya, terdapat ribuan bahkan belasan ribu pula yang meninggal.

Inilah yang kemudian memunculkan semacam degradasi nilai kemanusiaan. Kalau ada musibah di India, dan yang meninggal mencapai belasan ribu orang, pers dunia menganggap 'biasa saja', toh sudah rutin terjadi.

Berita yang dipublikasikan ke publik pun datar-datar saja. Tidak heboh. Berbeda misalnya di Amerika Serikat. Dua orang meninggal tersapu banjir sudah menjadi berita utama pers dunia.

Hal serupa terjadi di Korea Selatan. Sekitar 40 tahun silam, siapa yang memperhitungkannya?

Dia dianggap 'anak emas' Amerika Serikat yang sibuk menghadapi tetangganya Korea Utara. Korea Selatan pun tidak banyak memiliki sumber daya alam, sebagaimana Indonesia dan negara-negara kaya minyak. Begitu pun dengan Vietnam, siapa yang peduli pada negara yang porak-poranda akibat perang ini puluhan tahun lampau tersebut?

Akan tetapi, kini baik Korea Selatan, Vietnam dan terutama India menjadi negara-negara yang terpandang ekonominya di dunia. India kini tidak saja berambisi menjadi salah satu di antara delapan negara industri, tetapi juga menjadi negara dengan kemampuan ekonomi terbaik di dunia.

Mereka ingin, kelak, menggeser enam raksasa, Amerika Serikat, Jepang, Republik Rakyat China, Jerman, Inggris dan Kanada. Ambisi India ini bukan sesumbar anak ayam yang hendak mengajar burung garuda terbang, melainkan benar-benar diwujudkan dengan kerja keras, dan inovasi luar biasa.

Aspek vital yang menyebabkan Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman dan India amat maju karena mempunyai pemerintahan yang kuat.

Pemerintahan yang efektif biasanya selalu memiliki bank sentral yang sangat kuat, yang memainkan peran sentral sebagai lokomotif penggerak bagi seluruh gerbong ekonomi.

Menara gading

Dalam konteks itulah kita menggugah Bank Indonesia tidak sekadar menjadi menara gading. Bank Indonesia seyogianya berperan lebih strategis agar roda ekonomi melesat dengan kecepatan luar biasa.

Lantas apa yang bisa diperbuat Bank Indonesia? Pertama, Bank Sentral seharusnya ikut berperan lebih baik agar inflasi terkendali, stabilitas moneter terjaga, devisa aman dan jangan sampai kepemilikan asing di bank-bank swasta nasional menjadi bumerang bagi perekonomian nasional.

Kedua, Bank Indonesia hendaknya memberi perhatian amat besar pada besarnya jumlah penguasaan saham (di perbankan) oleh para investor luar negeri.

Kita menyadari kerasnya arus investasi asing di tubuh perbankan sebagai dampak globalisasi dan ekonomi yang terbuka.

Akan tetapi manakala penguasaan ini makin melebar, bisa dibayangkan seperti apa ekonomi Indonesia kelak pada masa mendatang.

Kita mendesak Bank Indonesia memberi perhatian sangat serius pada masalah penguasaan saham oleh investor asing.

Ketiga, Bank Indonesia pun diharapkan mengambil berbagai kebijakan yang pada ujungnya mampu membuat suku bunga bank menjadi lebih rendah.

Rendahnya suku bunga akan membuat roda perekonomian nasional bergerak sangat cepat, sehingga keinginan menghasilkan produk bermutu amat terbuka.

Dan, yang lebih menarik lagi, lapangan kerja terbuka semakin lebar. Lebih banyak rakyat bekerja, akan mempercepat keinginan mengurangi besaran angka kemiskinan.

Menaikkan kemampuan belanja masyarakat berarti lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tentu tidak mudah menerapkan kebijakan populis tersebut, tetapi kita yakin segenap pimpinan Bank Indonesia akan mampu melakukannya.

Keempat, Bank Indonesia semestinya mengambil beberapa langkah strategis yang berdampak pada penguatan sektor riil.

Sektor-sektor utama yang perlu diperhatikan di antaranya adalah industri garmen, tekstil, sepatu, produk elektronik, dan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat.

Sektor riil, termasuk pelaku ekonomi bermodal kecil, selayaknya dibantu karena kita sangat memahami bahwa sektor ini memberi lapangan pekerjaan yang amat luas kepada rakyat.

China dan India mampu menyeruak sebagai bangsa sangat terkemuka di bidang ekonomi, di antaranya karena memberi perhatian luar biasa pada sektor riil.

Oleh karena itu, kita pun menggugah Bank Indonesia berperan dengan langgamnya sendiri agar tercipta pembangunan infrastruktur yang signifikan.

Ada pembangunan sejumlah pembangkit listrik yang menopang perekonomian, ada pembangunan jalan di perdesaan, pelabuhan baru dan sebagainya.

Sepatutnya pula, Bank Indonesia membuat kebijakan yang ujungnya, bank swasta nasional dan bank asing tergerak untuk membiayai pembangunan infrastruktur.

Harus diakui bahwa untuk menopang pembangunan infrastruktur, atau memberi napas segar kepada sektor riil dan UKM butuh dana yang luar biasa besarnya. Akan tetapi, inilah jalan yang memang harus ditempuh agar pertumbuhan ekonomi bergerak pada angka lebih besar.

Dalam hitung-hitungan sederhana, untuk merengkuh pertumbuhan 7% sampai 7,7% pada 2014, pemerintah memerlukan dana investasi yang jumlah mencapai tidak kurang dari Rp10.000 triliun.

Harus lebih kreatif

Jumlah tersebut memang angka yang amat besar. Namun, apalah susahnya meraih angka itu kalau pemerintah memang bekerja jauh lebih serius, lebih kreatif dan inovatif?

Hanya itulah, dalam pandangan saya, jalan untuk meraih prestasi fenomenal sebagai bangsa terpandang di dunia baik di bidang teknologi maupun di sektor ekonomi.

Penekanan pada sektor riil dan infrastruktur, secara berulang-ulang saya kemukakan dalam tulisan ini, perlu dilakukan agar Indonesia menjadi produsen pelbagai komoditas strategis.

Selama ini kita terkesan belum mengambil jalan lebih keras dalam hal ekspor. Ekspor Indonesia masih didominasi komoditas dan sumber daya alam yang tidak atau belum diolah.

Kita mengekspor kakao, dan pada saat yang bersamaan ternyata kita harus menerima es krim, cokelat bermutu, kosmetik dan sebagainya melalui impor.

Kita sangat bangga mengekspor crude palm oil (CPO) dan kita happy menerima minyak goreng kelas satu. Kita mengirim minyak mentah dalam jumlah besar dan kita menerima bahan bakar kelas satu dari negara yang tidak memiliki minyak sama sekali, seperti Singapura.

Saya yakin Bank Indonesia menyadari hal ini, dan oleh karena itu seyogianya Bank Indonesia dengan strateginya sendiri, mampu berperan memajukan sektor riil, infrastruktur dan usaha kecil menengah.

Di sisi lain, kita mendesak Bank Indonesia memperhatikan lalu lintas devisa. Dalam pikiran sederhana, publik, terutama pelaku bisnis ingin supaya devisa negeri ini benar-benar tidak dimasuki hot money.

Kita menyadari bahwa hot money, bisa dengan seketika terbang ke luar negeri. Dan kalau hal itu terjadi, berpotensi menggoyahkan stabilitas perekonomian nasional.

Hot money datang sekadar memanfaatkan suku bunga kita yang tinggi. Tidak ada ketulusan di sanubari para pemain hot money tersebut.

Kita pun ingin Bank Indonesia menaruh perhatian besar pada tren penguatan rupiah. Jangan sampai menguatnya mata uang tersebut, yang kelihatannya saja keren dan gagah, tetapi sebetulnya berpotensi melemahkan ekspor kita dan pada saat bersamaan menyuburkan impor.

Kepada Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia yang baru, saya sampaikan selamat berkarya. Bangsa Indonesia menunggu karya Anda.

Oleh Sofjan Wanandi
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia