| Kurs | Jual | Beli |
| Sofjan Wanandi: Nasionalisme Jangan Sekadar Diucapkan Saja |
|
|
|
| Written by Majalah Topik |
| Monday, 23 August 2010 13:59 |
Mereka yang berkarya di berbagai bidang pun untuk kemajuan negeri ini, menurut Sofjan,bisa digolongkan ikut menumbuhkan semangat nasionalisme. Tak terkecuali bagi keturunan Tionghoa yang berkarya untuk bangsa dan negeri ini.Seiring terbukanya pemikiran kaum pribumi terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia,keduanya saling hidup membaur, beradaptasi satu sama lainnya. “Jika sudah tidak ada lagi perbedaan antara kalangan pribumi dan nonpribumi, saya yakin mereka akan bangga terhadap bangsa ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” kata Sofjan Wanandi yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) kepada Syarifudin dari Majalah TOPIK. Jika keturunan Tionghoa sudah bangga menjadi warga Indonesia, menurut Sofjan, rasa nasionalisme mereka akan tumbuh dengan sendirinya. Toh, nasionalis itu bukan melulu ditujukan kepada para pejuang di negeri ini. Mereka yang berkarya di berbagai bidang pun untuk kemajuan negeri ini, menurut Sofjan, bisa digolongkan ikut menumbuhkan semangat nasionalisme. Tak terkecuali bagi keturunan Tionghoa yang berkarya untuk bangsa dan negeri ini. Berikut nukilannya. Keberadaan orang Tionghoa sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Sebagai warga keturunan, apakah Anda merasa ada perbedaan antara orang pribumi dengan non pribumi?Sebelum masuk ke persoalan kelompok Tionghoa, saya ingin mengemukakan bahwa setelah 60 tahun lebih bangsa ini merdeka, pada HUT ke-65 RI ini kita harus melihat lagi semangat para generasi muda kita untuk membangun Indonesia. Tapi ini tidak terlepas peran dari pemimpin-pemimpinnya sendiri, dalam mengisi kemerdekaan ini. Misalnya mengisi kemerdekaan ini melalui pembangunan ekonomi, sehingga rakyat kita hidup lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Karena kondisinya sekarang masih ada jutaan rakyat tidak bisa hidup lebih baik. Memang, pemerintah memberikan bantuan, misalnya melalui program raskin kepada jutaan keluarga. Pemerintah juga mesti memberikan BLT begitu besar, karena begitu banyak kepada rakyat miskin, yang diperkirakan sebanyak 30 juta jiwa. Mestinya saat ini rakyat Indonesia sudah bisa mengisi kemerdekaan Indonesia yang ke-65 ini. Tapi kondisinya sekarang masih ada jutaan rakyat Indonesia yang belum merasakan hasil kemerdekaan bangsa ini. Di sini sebetulnya kita bisa melihat kembali apa sebenarnya yang terjadi setelah kita bereformasi. Apa yang terjadi setelah beberapa tahun terakhir, orang tidak merasakan lagi bahwa kepentingan rakyat harus dinomor satukan. Sayangnya masih ada sebagian pemimpin-pemimpin Selain persoalan kurang kepedulian dari sebagian elite, faktor dominan yang menyebabkan masih adanya jutaan rakyat miskin di Indonesia?Sekarang lihat saja apa yang terjadi pada proses pembangunan di Indonesia. Pertama, dalam beberapa tahun terakhir, apalagi setelah krisis global, kita membangun hanya dengan menjual kekayaan alam kita ke luar negeri. Misalnya saja, batu bara yang diekspor sebanyak 300 juta ton selama setahun. Ironisnya, kita malah bangga mengekspor batu bara tersebut. Sedangkan China, nomor dua deposit paling besar di dunia atau Amerika nomor satu didunia, satu ton pun dia tidak ada ekspor. Semua dia pakai untuk kepentingan dalam negeri. Tapi kita sebagian besar kekayaan alamnya dieksport, dan merasa Tengok saja negeri lain yang dulu tertinggal dengan Indonesia sekarang sudah lebih maju. Dulu kita bilang Singapura itu bisa cepat lebih maju karena penduduknya cuma 3 juta jiwa. Sekarang kita bandingkan penduduk Indonesia yang lebih banyak dari China, sekitar 1,2 miliar jiwa penduduknya, tapi bisa lebih maju dari Indonesia. Jadi “IQ” kita tidak betul. Seharusnya kita introspeksi dalam merayakan kemerdekaan ini, misalnya apakah saya sudah lakukan tugas saya untuk rakyat saya? Dari Rasa bangga pada bangsa ini juga jangan sekadar diucapkan saja, tapi harus dimplementasikan. Kita harus malu dengan Vietnam yang dulu tertinggal sekarang lebih maju dari Indonesia. Bahkan kita pun kalah dengan Kamboja dan Myanmar. Karena itu, kita semua harus bekerja keras untuk kemakmuran bangsa ini. Semua elemen atau kelompok yang ada di negeri bersatu, bahu membahu membangun negeri ini. Sertakan pula kalangan muda membangun negeri ini. Sekarang generasi muda kita maunya yang instan-instan saja, kurang berkreasi. Dulu, selama 25 tahun kepemimpinan Soeharto, ekonomi kita bisa tumbuh 7-8 persen. Tapi kenapa sekarang kita tidak bisa lebih dari 8 persen? Apa karena demokrasi kita kebablasan? Apa karena otonomi kita sudah salah arah? kita harus betulkan kesalahan-kesalahan itu, karena itu perbuatan kita juga. Kita yang memimpin, kita harus merubah undang undangnya demi kebaikan seluruh rakyat Indonesia. Kalau perlu diubah, ya kita ubah undang-undangnya. Apa yang perlu disadarkan kepada elite politik kita?Ya perjuangan para elite politik tujuannya untuk kebutuhan rakyat kecil, bukan kepentingan kelompok kecil. Ini yang harus diintrospeksi. Setelah itu, baru kita bicara tentang yang lain-lain. Kita harus kasih contoh tauladan, bukan cuma omong enak-enak dan janji-janji saja. Karena kita harus lihat ke bawah, rakyat yang masih miskin, sudahkah mereka dikasih subsidi, bukannya kalangan atas yang minta subsidi dari rakyat miskin. Indonesia dengan ideologi Pancasila penduduknya heterogen. Ada berbagai suku, agama, dan ras di sini. Pandangan Anda untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dari keragamaman penduduk di Indonesia?Dari dulu kita selalu mencoba dengan segala macam cara untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, misalnya melalui P4. Bung Karno lewat pidatopidatonya menyerukan semangat nasionalisme agar kita bangga menjadi warga negara Indonesia. Sekarang, semangat nasionalisme itu harus tetap dibangkitkan kembali. Para kaum tua jangan bosan-bosan mengingatkan kaum muda tentang tanggung jawabnya kepada bangsa dan negara ini. Semua itu harus dilakukan bersama-sama, menjaga solidaritas sesuai dengan motto atau semboyan bangsa Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, biar pun kita berbeda-beda Jadi jangan sampai kita terpecahpecah, kelompok satu dengan yang lain tidak ada toleransi, sehingga lebih kepada memikirkan kelompoknya masingmasing. Tapi lihat saja yang terjadi sekarang di kalangan elite partai di lembaga dewan. Bila ada yang tidak sepaham dengan pemerintah, lalu menjadi oposisi. Kemudian ada arena saling ganjal, menghujat, sehingga lembaga yang terhormat itu tidak ada lagi wibawanya. Apakah karena usia demokrasi kita masih muda atau karena euforia berdemokrasi?Dua-duanya. Kita baru merasakan demokrasi sejak lahirnya era reformasi pada 1997. Tapi kenapa kita tidak pernah “pintar” dalam berdemokrasi. Euforia demokrasi ini juga menurut saya sudah salah arah, dan mesti kita kembalikan ke arah yang lebih benar. Bukankah itu gunanya mereka menjadi pemimpin bangsa ini? Bukan pemimpin untuk cari kaya sendiri atau cari kuasa Saat ini memang masih terjadi kekisruhan di daerah. Namun, tidak sebesar permasalahan yang dihadapi di Poso atau di Ambon. Anda melihat kondisi di Tanah Air cukup kondusif?Ya, hampir semua kerusuhan didaerah mereda. Perdamaian di Poso itu misalnya karena ada peran Jusuf Kalla dan SBY yang cukup berani untuk mengambil over alih penyelesaian perselisihan beda agama, suku, dan segala macam. Sekarang ini saya anggap sudah tidak ada lagi kerusuhan besar. Cuma persoalannya sekarang para pemimpin di negeri ini belum sepenuhnya Sebagai warga keturunan, apakah Anda merasakan sudah tidak ada pendiskriminasian?Sekarang saya merasakan sudah tidak ada lagi pendiskriminasian antara kelompok pribumi dengan non pribumi. Kalangan non pribumi pun mau berpartisipasi dalam segala bidang. Dulu, pada jaman Belanda, sebenarnya sudah dibeda-bedakan antara golongan pribumi dengan non pribumi. Misalnya kalau orang non pribumi meninggal, dia dikubur di kuburan China, sekolah-sekolahan juga khusus orang China. Pada saat itu terpecah-pecah. Karena itu, kita tidak mesti ikuti lagi sejarah itu. Tapi waktu jamannya Pak Harto, waktu terjadi aksi komunis, semua sekolah ditutup, menggunakan bahasa China pun tidak boleh. Sekarang negara China sudah maju, kita ketinggalan jauh. Tapi kita juga butuh ilmu dari China, sehingga tidak boleh semua yang berbau China, entah kebudayaan China, dilarang. Nah, pada jaman Presiden Gur Dur barulah dibuka kebudayaan China boleh berkembang di Indonesia. Karena itu, China bisa berpartisipasi untuk membangun budayanya. Karena itu kita mesti membuka hubungan dengan China, suruh mereka investasi di sini sehingga tercipta lapangan pekerjaan untuk rakyat Indonesia. Tapi mereka juga harus kita berikan rasa nasionalisme seperti suku-suku lain yang ada di Indonesia. Maka dari itu sangat penting sekali diajarkan pendidikan nasionalisme di sekolah-sekolah, termasuk untuk warga keturunan ini. Apalagi sekarang sudah ada orang keturunan yang jadi PNS, kepala daerah, serta menjadi anggota dewan. Dulu kan tidak boleh. Omong-omong, apa Anda tidak tertarik menjadi presiden?Saya sudah terlalu tua. Usia saya sudah mendekati 70 tahun. Jadi sudah selesai waktu saya menjadi pejabat dinegeri ini. Berikan saja kepada yang masih muda, dan saya tahu diri kok. Jadi jiwa nasionalisme itu harus pula ditanamkan kepada warga keturunan yang tinggal di Indonesia ya?Ya, warga keturunan ini harus pula ditumbuhkan jiwa nasionalismenya. Mereka mesti bangga menjadi warga Indonesia. Dan saya melihat sekarang jauh lebih baik daripada jaman dulu, yang masih ada kecurigaan, sehingga mereka tidak bisa masuk ke “tempattempat” yang biasa dikendalikan kaum pribumi. Sementara orang keturunan lebih memfokuskan ke persoalan ekonomi, Bagaimana Anda menyikapi orang Tionghoa-Indonesia yang kurang menanamkan rasa nasionalisme?Saya pikir, secara perlahan-lahan rasa nasionalisme itu akan tumbuh dalam diri mereka. Memang tidak bisa secara sporadis. Semua anak-anak saya bahkan saya beri nama orang Indonesia, tidak ada nama Tionghoa. Anak-anak saya pun lebih banyak teman dari kalangan pribumi dibandingkan orang Tionghoa. Nama saya sendiri dulu lebih dikenal Lim Biat Kun. Tapi sekarang lebih popular Sofjan Wanandi. Anak-anak saya mungkin juga tidak bisa bahasa Tionghoa. Artinya kalangan pribumi pun tidak boleh mendiskriminasi kepada kalangan Tionghoa-Indonesia?Saya pikir nantinya secara otomatis akan terjadi pembauran. Karena itu antara kelompok Tionghoa dengan pribumi harus bergaul bersama-sama, sekolah sama-sama. Kalau pun mereka mengejar study di luar negeri, sekembalinya nanti ilmunya itu diabdikan untuk kemajuan bangsa ini. Jika sudah terjalin kebersamaan, lama-kelamaan tidak ada lagi perbedaan di antara orang Tionghoa dengan pribumi. keberadaan warga Tionghoa nantinya sama seperti suku-suku yang ada di Indonesia, seperti suku Batak, Padang, Jawa, Sunda, dan suku-suku lainnya. Karena itu, saya mengimbau kepada keturunan Tionghoa jangan Makna nasionalisme bagi seorang Sofjan Wanandi?Maknanya perjuangan kita untuk bangsa ini. Jadi makna nasionalisme bukan dalam arti Anda mesti jadi pahlawan saja. Kemudian dikuburkan di Taman Makam Pahlawan di Kalibata. Nasionalisme ini yaitu semua jalan pikiran warga Indonesia atau semua orang punya pekerjaan untuk membangun bangsa ini. Jadi bagaimana membangun dan memajukan bangsa ini bersama-sama. Jadi ada rasa kebersamaan, dan rasa cinta Tanah Air. Kalaupun kita sedang berada di luar negeri, toh nantinya akan kembali ke Indonesia. Ibarat pepatah: biar pun hujan emas di negeri lain dan hujan batu di negeri sendiri kita ingin tetap didalam negeri. Kalaupun ada yang sekolah atau bekerja di luar negeri tetap akan kembali ke Tanah Air. Begitupula dengan orang-orang Tionghoa, walaupun mereka punya rumah misalnya di Singapura, biarkan saja. Toh, selama dia bisa diberikan kesempatan kemampuannya untuk membangun Indonesia, biarkan saja. Karena sekecil apapun selama mereka Jika diprosentasekan, seberapa besar nasionalisme Anda?Saya sendiri merasa nasionalis. Kalau ada yang mengatakan kurang nasionalis, di mana letak kekurangannya, bahkan jika dibandingkan dengan pribumi lainnya. Mungkin saya lebih hebat. Dan saya juga ingin semua warga Indonesia, termasuk keturunan Tionghoa punya perasaan nasionalis kepada bangsa ini. Jadi sekecil apapun bisa dilakukan untuk bersama-sama membangun dan memajukan bangsa ini. Jika sudah ditanamkan rasa nasionalisme, kita akan bangga bilang bahwa kita adalah orang Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. |

















