|
TEMPO Interaktif, Jakarta -Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto menganggap kemacetan di Merak-Bakauheni sejak 3 Februari lalu adalah kondisi darurat (force majeure). "Krisis itu jelas berdampak pada jalan tol karena antriannya juga terjadi di tol Tangerang-Merak. Kami sadar, peristiwa itu adalah 'force majeure'. Jadi, kami relakan saja," katanya saat memberi keterangan kepada wartawan di kantornya, Selasa (1/3). Kerugian tersebut terutama diakibatkan antrian yang panjang baik oleh truk atau kendaraan lain menuju Merak, terutama ujung tol di Gerem, pintu keluar tol ujung Merak. Antrian ini terpaksa dikeluarkan terlebih dulu di Cilegon Barat atau Cilegon Timur. Sayangnya, menurut Djoko, belum ada data jumlah kerugian akibat kemacetan di Merak. Kementerian melalui operator jalan tol yaitu PT Marga Mandala Sakti mengaku telah memberikan bantuan kepada supir truk yang sedang mengantri antara lain nasi bungkus dan minuman. “Karena mereka kepanasan, jengkel dan uang makan terbatas, jadi kami berikan bantuan sekedarnya,“ ujarnya. Operator tol, kata Djoko, juga sangat berhati-hati melayani sopir tersebut. “Soal kemungkinan penggunaan jalan arteri untuk antrian di luar jalan tol, terus terang, itu sulit dilakukan,“ katanya. Data Kementerian PU menyebutkan, antrian mulai terjadi sejak 3 Februari lalu, ketika dilakukan pengetatan safety (keselamatan) paska kejadian kebakaran KM Lautan Teduh. “Lama antrian pengguna jalan dapat mencapai 2-3 hari sehingga muncul potensi kerawanan. Data antrian kendaraan menunjukkan semalam (28/2), antrian sempat habis di jalan tol, tetapi pada Selasa pagi antrian sudah panjang lagi mencapai 12 kilometer,“ ungkapnya. Direktur Operasi PT Marga Mandala Sakti, Sunarto Sastrowiyoto mengakui, setelah krisis Merak tersebut, lalu lintas harian kendaraan di jalan tol Tangerang-Merak turun dari 6500 kendaraan per hari menjadi 1000-1500 per hari. “Frekuensi komuter juga berkurang dan rambu-rambu di jalan tol pada sepanjang antrian banyak yang dirusak oleh para sopir truk,“ katanya. Tidak hanya itu, kerugian lainnya, tambah Sunarto, adalah lapisan aspal jalan tol yang baru selesai diperbaiki pada 2010 itu akan menjadi cepat rusak. “Rusaknya antara lain karena kena tetesan solar truk,“ katanya. Sama seperti Djoko yang tak bisa menyebut angka kerugian dari kemacetan di Merak, Sunarto juga enggan merinci total kerugian yang ditanggung, karena hal itu masih dalam penghitungan. “Angka persisnya belum, tapi perkiraan kami, mencapai miliaran rupiah," jelasnya. Dia bercerita, akibat antrian panjang itu, beberapa supir truk yang mulai kehabisan uang saku untuk biaya makan selama mengantri akhirnya terpaksa membayar tol dengan menitipkan barang yang dimiliki. “Kami memahami kondisi tersebut juga merugikan pihak lain seperti pengemudi truk. Biasanya mereka bawa uang saku pas-pasan sehingga ketika perjalanan bertambah 2-3 hari, mereka banyak kebabisan bekal. Akibatnya, banyak diantara mereka yang membayar tol dengan menjaminkan HP dan STNK,“ katanya.
|