Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Kurs Jual Beli
 
Home Kliping Imam tularkan wirausaha bagi mantan TKI
Imam tularkan wirausaha bagi mantan TKI PDF Print E-mail
Written by Bisnis.com   
Tuesday, 22 March 2011 16:19

Bisnis Indonesia: Di tengah beragamnya kisah pilu tenaga kerja Indonesia (TKI), Imam Nachrawi, mantan buruh di Korea Selatan asal Way Jepara, Lampung Timur, berhasil menampilkan diri sebagai model mantanburuh migrant sukses.

Imam tidak hanya menjadi pengusaha, tetapi juga berhasil memberdayakan teman senasibnya dan keluarga para TKI.

Bagi aktivis Gerakan Pemuda Ansor di Lampung Timur ini, pergi menjadi TKI memang harus dengan target. Memperbaiki hidup adalah tekat Imam, karena selama ini gajinya sebagai buruh A pabrik pengolahan pisang dirasa tak mencukupi.

Niatnya makin bulat setelah sang istri Suprihatin memberinya pesan berharga sebelum berangkat ke Negeri Gingseng pada 2000. "Saat itu istri saya berpesan dan memberi saya dua pilihan, pulang dan berhasil membuat iri tetangga karena sukses, atau pulang dengan malu disoraki tetangga karena gagal," tutur Imam.

Berbekal pesan itu, Imam bekerja di perusahaan tekstil di Pusan, dengan kontrak 2 tahun. Dengan bekerja keras, dan kejujuran Imam berupaya mengumpulkan banyak uang untuk modal menjadi pengusaha di kampung halaman.

Sembari bekerja, Imam di luar negeri bahu-membahu mewujudkan cita-citanya dengan istrinya yang tinggal di Desa Gunung Terang itu. Gaji Rp5 juta setiap bulan dia kirimkan untuk kebutuhan keluarganya, dan sebagian lagi ditabung.

Setahun bekerja, Imam mulai merintis toko bangunan melalui istrinya. Sepulang dari Korea Selatan, bisnisnya berkembang pesat. Dengan modal tambahan , Rp50 juta, kini aset Imam bertumbuh menjadi tidak kurang dari Rp2,5 miliar.

Hal yang lebih menarik, Imam tak hanya berkembang sendiri. Didukung oleh kalangan TKI teman-temannya, dia sulap pasar kampung yang mati menjadi tempat berdagang yang kios-kiosnya dimiliki para TKI.

Tahap pertama dibangun 70 kios berukuran 6x6 m, 7x7 m, dan 8x7m . "Kami membangun kios-kios im selagi kami bekerja di luar negeri, dan kemudian istri kami atau anggota keluarga TKI yang mengelolanya," ujar Imam. Pembangunan satu kios menghabiskan dana sekitar Rp15 juta. Sebagian TKI membayar kontan tempat usahanya di Dusun Gunung Terang, Desa Labuan Ratu, Kecamatan Way Jepara itu, tetapi pada umumnya dengan cara diangsur 3 kali setahun.

Kini Pasar Rintisan TKI di atas lahan 1 ha milik desa itu sudah berkembang menjadi 95 kios dan 10 petak los dengan aneka dagangan, mulai dari sembako, sayuran, garmen, alat pertanian, jasa tukang jahit pakaian, jasa bengkel motor, hingga jasa percetakan.

Bagi Usman, keberadaan pasar itu telah mengubah statusnya sebagai pekerja menjadi wirausahawan jasa percetakan. Kiosnya dibeli dengan uang kiriman istrinya yang masih bekerja di Taiwan. Saat musim bagus omzetnya mencapai Rp7 juta per bulan.

"Setelah istri saya selesai kontrak kerja, nanti akan bersama-sama mengurus usaha ini," kata pria berumur 27 tahun itu.

Sementara itu, suami-istri Keman dan Heni yang sempat menjadi TKI di Hong Kong dan Taiwan kini mapan dengan toko alat tulis dan kantor. Mereka puas karena hasil jerih payahnya di luar negeri bisa dinikmati, apalagi bisa mempekerjakan karyawan.

Untuk mendukung usaha para pedagang, kini dirintis pendirian Koperasi Bina Pasar Mandiri, yang diharapkan bisa memberi dukungan modal, mengembangkan sumber daya pedagang, hingga meningkatkan tata kelola pasar.

Imam menuturkan pembangunan pasar itu merupakan wujud prihatin karena banyak ditemukan mantan TKI yang kembali miskin setelah pulang ke Indonesia, akibat berperilaku konsumtif dan tidak bisa mengelola uang hasil jerih payah saat di luar negeri.

"Pasar itu untuk memotivasi mereka agar tidak lagi menjadi TKI dan sukses jadi pengusaha," katanya. Ya, Imam memang telah berhasil menjadi contoh dan pele-cut para TKI yang ingin sukses.

Peraih Indonesia Migrant Worker Award 2010 itu tampaknya belum berhenti. Setelah membuat catatan penting di Lampung Timur, kini Imam aktif membina kelompok mantan TKI untuk berwirausaha.

Melalui organisasinya Gerakan Pemuda Ansor, Imam bertekat menyebarluaskan model-model berwirausaha bagi mantan TKI yang telah sukses dikembangkannya ke berbagai wilayah di Indonesia.